Monday, October 11, 2010

PENGAJIAN AKBAR






Sabtu, 2 Oktober 2010 telah digelar pengajian akbar dalam rangka peresmian Majelis Tafsir Alqur’an (MTA) yang terdiri dari 3 cabang Perwakilan Ngawi yakni cabang Karangjati, cabang Mantingan dan cabang Ngrambe 2, acara bertempat di Lapangan Kecamatan Karangjati, sekitar 20 KM dari Kota Ngawi ke arah Caruban. Hadir dalam acara tersebut sebagai penceramah adalah Dr. KH Amrullah Ahmad dari MUI Pusat Jakarta, Ketua Umum MTA Pusat Al Ustad Drs. Ahmad Sukina, Wakil Bupati Ngawi Ony Anwar, ST., Ketua MUI Kabupaten Ngawi H. Rahmadhan A. Karim, dan peserta pengajian sekitar 20.000 orang dari berbagai wilayah di Jawa timur dan Jawa Tengah.
Acara diawali dengan Pembukaan dilanjudkan dengan laporan panitia Drs. Moch. S. Pardi, diteruskan dengan penyerahan SK (surat Keputusan) oleh Ketua Umum MTA Pusat Al Ustad Drs. Ahmad Sukina, pembukaan selumbung papan nama oleh Dr. KH Amrullah Ahmad dari MUI Pusat Jakarta.
Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Jakarta, KH.Amrullah Ahmad pada pengajian akbar menyampaikan bahwa “Media massa baik elektronik maupun cetak akhir-akhir ini banyak yang memberitakan kabar tentang kenakalan remaja, konflik antar masyarakat, antar kelompok, antar suku dan lain sebagainya. Ini menandakan bahwa akhlak bangsa bukan semakin baik, tetapi justru mengalami penurunan.
KH.Amrullah Ahmad menyayangkan para penegak hukum yang kurang berfungsi dengan baik, sehingga masyarakat berusaha menyelesaikan masalah di luar koridor hukum. Oleh karena itu, katanya, Majelis Ulama Indonesia berharap para penegak hukum baik dari kalangan kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan seterusnya haruslah benar-benar bisa menegakkan hukum dalam menghadapi persoalan masyarakat. “Sebab, ketika institusi-institusi lembaga hukum, tidak bisa lagi menegakkan keadilan baik menurut agama maupun undang-undang, akhirnya masyarakat menyelesaikan dengan cara premanisme,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengajak kepada umat Islam khususnya di Indonesia untuk kembali pada Al-Qur’an. “Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan,” ujarnya.
Islam yang merupakan agama rahmatan lil alamin bukan berarti Islam tidak tegas. “Islam itu tegas, mana yang haram sampaikan yang haram, mana yang halal sampaikan yang halal. Sehingga dakwah itu harus tegas dan jelas, jangan lalu mengartikan Islam rahmatan lil alamiin itu miring-miring sedikit boleh,” jelasnya.
Islam akan menjadi rahmatan lil alamin hanya ketika Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah dilaksanakan oleh para pemeluknya, sehingga pemeluknya mempunyai sikap dan pola pikir yang benar-benar menjaga perdamaian di muka bumi ini. “Kalau betul-betul ingin menjadikan Islam itu rahmatan lil alamiin, mari kita jadikan Rasulullah sebagai uswatun hasanah dalam semua aspek kehidupan,” tuturnya.
Al-Qur’an sebagai sistem penjelas dalam memahami berbagai persoalan baik dari persoalan kecil hingga besar. Jika semua umat Islam mengamalkannya, ujarnya, maka akan tercapai tujuan untuk menghasilkan masyarakat yang berkeadilan, sehingga Islam benar-benar menjadi rahmatan lil alamin bagi masyarakat bangsa dan negara bahkan dunia. “Ini yang kita inginkan dari perjuangan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar,” pungkasnya. (rio).

No comments:

Post a Comment

Post a Comment