Bupati Ngawi Ir. Budi Sulistyono yang
hadir dengan Muspida, KONI dan Perwosi tampak puas dan bersemangat menonton
pertandingan bola volley ini hingga selesai. Diakhir lomba, Bupati menyerahkan
secara langsung hadiah berupa thropy dan uang pembinaan kepada tim Juara.
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Wednesday, June 19, 2013
Kecamatan Pitu dan Dishubkominfo Kuasai Volley Antar SKPD
Sunday, June 16, 2013
PUSAT JAJAN MALAM HARI
![]() |
| Konsep Pujamari Bugisan |
Pengembangan usaha ekonomi produktif ini
diharapkan dapat membantu serta menjadi solusi bagi upaya peningkatan pendapatan bagi para pedagang,
utamanya pedagang kuliner. “ Sektor riil
perdagangan khususnya kuliner Jumlahnya cukup banyak namun masih belum
memiliki inovasi dan difasilitasi
dengan baik sehingga belum mampu berdaya saing &
marketable”, jelas Anwar Rifai Plt. Kepala Dinas Perdagangan dan
Pengelolaan Pasar (Digdagsar) saat ditemui disela – sela rapat Panitia Hari
Jadi.
Launching
PUJAMARI akan dilaksanakan pada tanggal 28 Juni 2013 bertempat di jalan PB
Sudirman,sebelah timur jembatan Jrubong. pemilihan tanggal ini memang
momentunya bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kabupaten Ngawi ke 655 yang
jatuh pada tanggal 7 Juli 2013. Guna mempromosikan PUJAMARI ini akan disediakan
voucher makan gratis sebanyak 1.350 lembar seharga Rp. 10.000,- yang akan dibagikan
selama 9 hari sampai dengan tanggal 7 Juli saat puncak peringatan Hari Jadi
Ngawi.
Seperti
namanya, pusat jajan ini akan buka di malam hari. Pada tahap awal akan diisi oleh 15 pedagang
kuliner yang memang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Ngawi seperti kuliner
khas ikan laut “Sari Laut”, Mi Ayam Ceker, Depot Sehat dan lain-lain, juga satu
stand khusus Teh Jamus yang menyajikan Minum Teh Hijau Gratis. Dengan konsep
tempat yang Knock Down, lokasi PUJAMARI dipastikan tetap bersih pada siang
hari. Selain itu, pada bulan Ramadhan, Pujamari tetap akan beroperasi namun
dengan jam operasional yang sedikit berbeda dengan hari hari biasanya. Khusus
bulan Ramadhan, PUJAMARI akan dibuka mulai Pukul 16.00 WIB sampai dengan 03.00
WIB sehingga bagi yang melaksanakan ibadah puasa bisa tetap mendapatkan
hidangan berbuka puasa dan santap sahur. Selanjutnya bila PUJAMARI telah
berjalan, pembentukan Paguyuban pedagang akan dilakukan untuk memudahkan
koordinasi antar pedagang. Pemkab juga akan terus mengawal PUJAMARI,
meng-evaluasinya dan menambah lokasi PUJAMARI di daerah yang lain bila
dirasakan memberikan dampak positif.
Thursday, May 30, 2013
Dari Festival Dalang Cilik : Gali Potensi sejak dini
Dalam festival ini setiap dalang berikut para pengrawit
diberikan durasi waktu selama 40 menit untuk tampil. Selain dituntut untuk
memahami karakter wayang, para dalang cilik ini juga harus mampu menguasai alur
cerita.
Festival dalang cilik ini diikuti tidak kurang dari 25
peserta dan grup kerawitan dari pelajar setingkat SD dan SMP dari UPT Dinas
Pendidikan di 19 kecamatan. Pada hari pertama, festival dibuka dengan tampilnya
salah satu dalang cilik dari UPT Widodaren mengambil lakon Jabang Tetuko dan
diteruskan tampilnya Niken Ayu Pratiwi yang merupakan dalang cilik dari UPT
Kecamatan Paron dengan lakon Wahyu Irawan.
Sedangkan pada hari kedua 13 dalang berikut pengrawit juga
unjuk kebolehan untuk merebutkan tropy dari Bupati Ngawi. Sukadi ketua panitia
festival dalang cilik dari Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Olahraga
(Disporabudpar) Kabupaten Ngawi menjelaskan pihaknya melibatkan tiga dewan juri
dari Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi). Ketiga dewan juri tersebut yaitu;
Ki Suluh Juniarsah dari Pepadi Kabupaten Klaten, Ki Juworo Bayu Kusumo dari
Pepadi Kabupaten Sragen dan Ki Halintar Cokro Padnobo dari Pepadi Kabupaten
Surakarta.
Para dewan juri tersebut ungkap Sukadi, memberikan
penilaian sesuai dasar seni pedalangan
wayang kulit termasuk iringan musik gamelan dari para pengrawit. “Dalam
memberikan nilai para dewan juri ini mengacu pada sabet, ontowecono atau
karakter suara dan terakhir pada penilaian iringan gamelan harus pas,” kata
Sukadi. Selain itu tambahnya, festival dalang cilik merupakan bagian dari
agenda dalam peringatan HUT Kabupaten Ngawi ke-655.
Sementara Budi Sulistyono Bupati Ngawi memberikan apresiasi
tersendiri atas terselenggaranya festival dalang cilik dan kerawitan yang bakal
menjadi agenda rutin ini. Jelasnya, wayang kulit merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari pelestarian budaya Jawa yang adiluhung. “Melalui festival
dalang ini sangat kita harapkan bersama nantinya anak dapat berkembang sesuai
karakter bangsa Indonesianya yang berbudaya, karena seni wayang kulit tersebut
di dalamnya terkandung tuntunan yang sangat mulia dalam rangka menjalani
kehidupan di tengah masyarakat,” jelas Ir Budi Sulistyono.
Setelah
menjalani lomba selama dua hari, tim dari UPT Gerih berhasil menjadi
Juara Umum, dikuti SMPN 1 Ngawi sebagai juara kedua dan Sanggar Putra Sadewa
sebagai juara ketiga, Hadiah juara lomba disampaikan langsung oleh Bupati Ngawi
Budi Sulistyono saat penutupan acara lomba.
Monday, April 8, 2013
Wayang Apem dan Klanthung Memukau
Dari Gelar Budaya Jatim 2013

Gelaran seni budaya tahunan bagi tiap kabupaten/kota yang digelar di Taman Budaya Cak Durasim Surabaya, Ngawi berkesempatan menjadi pembuka pagelaran tahun 2013. Selama 3 hari sejak tanggal 15-17 Maret 2013 kontingen budaya Ngawi menghiasi gegap gempita TB Cak Durasim Surabaya. Segala kekuatan dikerahkan dikerahkan untuk mensukseskan pagelaran ini. Tak luput seniman asli Ngawi ikut ambil bagian pada gelaran budaya yang cukup bergengsi di Jawa Timur.
Adanya gelar budaya tahunan ini diharapkan memberikan efek yang luar biasa berupa peningkatan kualitas dan pengembangan pembangunan daerah. “Dengan adanya seni dan produk Ngawi dapat diterima semua masyarakat, dan rezeki masyarakat Ngawi dapat bertambah, dan kegiatan dapat menambah lapangan kerja dan pembangunan wisata”, terang Bupati Ngawi.
Gelaran budaya ini dimaksudkan untuk memperkenalkan potensi seni budaya dan pariwisata masing-masing kabupaten/kota di Jatim secara bergiliran. Potensi tersebut perlu dipromosikan agar masyarakat semakin sadar bahwa kita memiliki kekayaan seni budaya yang memang layak dibanggakan. Dan sekaligus memperkuat ketahanan budaya sehingga tidak mudah silau terhadap budaya bangsa asing.
Sementara itu menurut Sekda Provinsi Jatim, Dr. Rasiyo, bahwa dengan mengembangkan potensi wisata dapat mendatangkan wisatawan tentunya akan meningkatkan PAD dan secara tidak langsung menumbuhkan perekonomian warganya. Sekaligus dalam kesempatan ini Sekda provinsi membuka secara resmi Gelar Seni Budaya Daerah Ngawi 2013, dengan tajuk Kalokaning Bumi Orek-orek Ngawi.
Pada hari pertama ajang budaya ini Ngawi menampil pertunjukan Wayang Apem. Wayang Apem, merupakan terobosan untuk mengembangkan budaya seni tradisi yang tidak statis dan kolot. Dinamakan “Apem” selain merupakan akronim dari “Alternatif Pendekatan Masyarakat” juga identik dengan makanan tradisional yang biasanya digunakan sebagai sesaji atau persembahan. Cara membuat Apem harus melalui proses pengendapan (kristalisasi) bahan agar menjadi lebih nikmat. Begitu pula Wayang Apem yang kali ini menyajikan lakon “Ngawiyat” yang menceritakan terjadinya Kota Ngawi.
Di hari kedua, Sabtu (16/3) Ngawi menyajikan pergelaran tari Jaran Dor, dan Klanthung. Klanthung merupakan sebuah permaianan dan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat desa Pakah kecamatan Mantingan Ngawi. permainan Klanthung bertujuan mengusir roh jahat dan menolak bala, permainan ini agak berbau religius magis. Dikatakan agak berbau religius magis karena nafas religius magisnya sudah banyak memudar karena tiada-nya upacara-upacara ritus khusus yang menyertainya. sebagai “penolak bala”. Tepuk tangan meriah dari penonton menutup pagelaran ini.

Gelaran seni budaya tahunan bagi tiap kabupaten/kota yang digelar di Taman Budaya Cak Durasim Surabaya, Ngawi berkesempatan menjadi pembuka pagelaran tahun 2013. Selama 3 hari sejak tanggal 15-17 Maret 2013 kontingen budaya Ngawi menghiasi gegap gempita TB Cak Durasim Surabaya. Segala kekuatan dikerahkan dikerahkan untuk mensukseskan pagelaran ini. Tak luput seniman asli Ngawi ikut ambil bagian pada gelaran budaya yang cukup bergengsi di Jawa Timur.
Adanya gelar budaya tahunan ini diharapkan memberikan efek yang luar biasa berupa peningkatan kualitas dan pengembangan pembangunan daerah. “Dengan adanya seni dan produk Ngawi dapat diterima semua masyarakat, dan rezeki masyarakat Ngawi dapat bertambah, dan kegiatan dapat menambah lapangan kerja dan pembangunan wisata”, terang Bupati Ngawi.
Gelaran budaya ini dimaksudkan untuk memperkenalkan potensi seni budaya dan pariwisata masing-masing kabupaten/kota di Jatim secara bergiliran. Potensi tersebut perlu dipromosikan agar masyarakat semakin sadar bahwa kita memiliki kekayaan seni budaya yang memang layak dibanggakan. Dan sekaligus memperkuat ketahanan budaya sehingga tidak mudah silau terhadap budaya bangsa asing.
Sementara itu menurut Sekda Provinsi Jatim, Dr. Rasiyo, bahwa dengan mengembangkan potensi wisata dapat mendatangkan wisatawan tentunya akan meningkatkan PAD dan secara tidak langsung menumbuhkan perekonomian warganya. Sekaligus dalam kesempatan ini Sekda provinsi membuka secara resmi Gelar Seni Budaya Daerah Ngawi 2013, dengan tajuk Kalokaning Bumi Orek-orek Ngawi.
Pada hari pertama ajang budaya ini Ngawi menampil pertunjukan Wayang Apem. Wayang Apem, merupakan terobosan untuk mengembangkan budaya seni tradisi yang tidak statis dan kolot. Dinamakan “Apem” selain merupakan akronim dari “Alternatif Pendekatan Masyarakat” juga identik dengan makanan tradisional yang biasanya digunakan sebagai sesaji atau persembahan. Cara membuat Apem harus melalui proses pengendapan (kristalisasi) bahan agar menjadi lebih nikmat. Begitu pula Wayang Apem yang kali ini menyajikan lakon “Ngawiyat” yang menceritakan terjadinya Kota Ngawi.
Di hari kedua, Sabtu (16/3) Ngawi menyajikan pergelaran tari Jaran Dor, dan Klanthung. Klanthung merupakan sebuah permaianan dan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat desa Pakah kecamatan Mantingan Ngawi. permainan Klanthung bertujuan mengusir roh jahat dan menolak bala, permainan ini agak berbau religius magis. Dikatakan agak berbau religius magis karena nafas religius magisnya sudah banyak memudar karena tiada-nya upacara-upacara ritus khusus yang menyertainya. sebagai “penolak bala”. Tepuk tangan meriah dari penonton menutup pagelaran ini.
Bupati Canangkan Jumat Jawa
Awal kepemimpinan Bupati Ngawi Ir. Budi Sulityono mencanang-kan Jumat Jawa untuk seluruh instansi di lingkup Pemerintahan Kabupaten Ngawi. Pencanangan Jumat Jawa ini selain bertujuan untuk lebih mengenalkan bahasa ke generasi muda juga bertujuan untuk melestarikan Bahasa Jawa. Dalam prakteknya, setiap hari jumat di setiap instansi diwajibkan untuk menggunakan bahasa jawa dalam kegiatannya dan berlaku selama aktifitas kantor masih berlangsung.
Bahasa menunjukkan Bangsa, sebuah peribahasa yang seringkali kita jumpai dalam berbagai kesempatan. Bahasa juga menunjukkan identitas dan karakteristik sebuah bangsa sehingga masing masing memiliki ke- khas-an yang bisa menunjukkan jati diri pemakainya. Dalam sejarahnya, bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku juga memiliki beragam bahasa daerah. Menurut Data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, per tahun 2012 tercatat ada sekitar 546 jumlah bahasa dan sub bahasa di seluruh Indonesia.
Keakuratan jumlah bahasa daerah ini memang masih bisa diperdebatkan. Banyaknya suku dan budaya di Indonesia menyebabkan terjadinya beraneka ragam bahasa. Hampir setiap daerah memiliki ciri khas bahasa masing masing. Namun seiring dengan perkembangan teknologi, urbanisasi dan generasi, bahasa daerah menghilang sedikit demi sedikit. Urbanisasi dan pekawinan antar etnis berperan penting dalam menghilangnya bahasa daerah karena percampuran penduduk dari satu daerah dengan yang lainnya hingga pada akhirnya mereka hanya menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh semua suku daerah yaitu Bahasa Indonesia. Kekuatan dan kebesaran kebudayaan suatu masyarakat sanggup untuk melindungi bahasa dari kepunahan sedangkan kebudayaan yang lemah akan melemahkan bahasa sehingga bisa dipahami bila saat ini bahasa daerah sedikit demi sedikit tergerus oleh arus modernisasi yang meminggirkan kultur budaya daerah. Ini adalah ironi yang dihadapi oleh bahasa daerah yang ada termasuk bahasa jawa. Jumlah orang jawa yang besar ternyata tidak mampu menjamin kehidupan budaya jawa yang kuat.
Untuk itu berbagai langkah diupayakan untuk setidaknya membuat bahasa jawa tetap ada dan eksis di tengah masyarakat meskipun dengan cara yang paling sederhana. Salah satunya adalah penggunaan Jumat Jawa. Selain itu upaya upaya yang lebih terstruktur dan terlembaga juga dilakukan seperti lomba dongeng bahasa jawa, pentas pentas seni tradisional dan lomba lomba dolanan anak yang berbahasa jawa. Memang kegiatan yang sifatnya masih insidential namun kalau hal ini bisa rutin dilakukan bukan tak mungkin akan menjadi tradisi. Tradisi atau kebiasaan lah yang mampu menjawab dan menjadikan bahasa jawa dalam kebiasaan sehari hari adalah hal yang coba dilakukan. (*)
Mengolah Tempe, Menarik Hati
Tempe termasuk produk makanan unggulan Kabupaten Ngawi. Selama ini tempe selalu identik dengan lauk pauk yang terkemas dengan cara sederhana yaitu dengan cara digoreng. Ada juga yang diolah dalam bentuk sayur, sehingga dengan kesederhanaan olahan ini tak jarang banyak orang khususnya anak anak menjadi bosan. Untuk itu menjadi tugas Ibu ibu bagaimana dapat menyajikan tempe menjadi berbagai olahan yang dapat disuguhkan diberbagai kesempatan dan tentunya menyenangkan.
Peduli dengan kenyataan ini, Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Ngawi yang dikomandani oleh Istri Wakil Bupati, dr. Anna Ony Anwar, mengadakan lomba yang bertajuk Lomba Masak Aneka Olahan dari Tempe dalam rangka memperingati Hari Ibu ke 84. Lomba yang diadakan pada tanggal 17 Desember 2013 di Gedung PKK ini diikuti oleh 27 organisasi wanita yang tergabung dalam GOW Kab. Ngawi dan melombakan berbagai kriteria olahan tempe.
Penasehat Utama GOW Kab. Ngawi, Hj. Antik Budi Sulistyono yang secara resmi membuka lomba, mengatakan bahwa ibu adalah Air Conditioner (AC) dalam keluarga. Karakteristik AC yang mendinginkan dan membuat nyaman ruangan sangat cocok untuk menggambarkan sosok dan peran seorang ibu dalam Rumah tangga. Ibu adalah pendamping suami yang diharapkan senantiasa dapat menjadi pengayom dalam rumah tangga, baik dalam suasana suka dan duka. Apabila ada hal yang kurang mengenakan di sebuah keluarga dapatnya Ibu selalu memberikan suasana yang sejuk sehingga segala problem yang ada dalam rumah tangga dapat diselesaikan dengan tenang dan mendapat barokah dari alloh. Selanjutnya Hj. Antik Budi Sulistyono juga meresmikan anggota kehormatan GOW Kabupaten Ngawi yaitu Hj. Ulfa Harsono dan Hj. Sunarmi Sujono yang telah berjasa dan mempunyai andil yang sangat besar dalam perjalanan GOW Kabupaten Ngawi hingga saat ini.
Dalam sejarahnya, GOW Kabupaten Ngawi merupakan Organisasi Kemasyarakat bidang Kewanitaan yang berdiri sejak Tahun l988. Wanita Indonesia sebagai Warga Negara Republik Indonesia, maka berhak dan berkewajiban serta bertanggungjawab dalam rangka mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar l945 guna mewujudkan masyarakat madani demi masa depan yang lebih baik bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.
Untuk mewujudkan pengabdian tersebut, berbagai kegiatan telah dilaksanakan GOW Kabupaten Ngawi, diantaranya :
- Bhakti Sosial pemberian Sembako ke desa desa
- Jalan Sehat Berhadiah
- Berbagai Seminar : Seminar Kesehatan, Kecantikan dll
- Anjang sana ke Panti Jompo, ke Napi Perempuan, dll.
Masih dalam kesempatan yang sama, Ketua GOW Kabupaten Ngawi dr. Anna Ony Anwar, menambahkan bahwa momentum hari ibu merupakan tonggak bersejarah bagi kaum perempuan di Indonesia dalam upaya terus mengisi kemerdekaan guna mewujudkan pembangunan berkelanjutan menuju kesejahteraan bangsa. Berkaitan dengan peringatan tersebut, GOW Kab. Ngawi mengangkat tempe sebagai bahan dasar untuk lomba dengan prosentase 75 %. Pemilihan tempe bukan tanpa sebab karena tempe merupakan makanan yang murah meriah, mudah didapat dan memiliki kandungan protein nabati yang tinggi. “, Sekaligus kita juga ingin menunjukkan bahwa tempe ternyata dapat diolah menjadi cake, kue kering, aneka kudapan, minuman yang lezat dan makanan selingan yang tak kalah lezatnya serta mempunyai nilai gizi yang baik untuk tubuh”, ungkap dr. Anna.
Diakhir sambutannya Ketua GOW Kab. Ngawi, dr. Anna Ony Anwar, menegaskan “, sebagai perempuan harapan kita dalam rangka hari ibu ini adalah mari kita tunjukkan peran kita masing masing sesuai dengan profesi yang kita geluti dengan kerja sama dengan kaum adam dalam mewujudkan pembangunan di Kabupaten Ngawi ini khususnya. Hal ini sesuai dengan tema hari ibu ke 84 yaitu peran perempuan dan laki laki dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan menuju kesejahteraan bangsa”.
Setelah melalui berbagai kriteria yang ketat, Dewan Juri yang terdiri dari 3 orang dan dipimpin oleh Andri Rahardjo memutuskan :
Juara I Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Ngawi dengan menu mix tempe salad dan punc tempe segar.
Juara II Tim Penggerak Pkk Kab. Ngawi dengan menu : steak tempe dan butter tempe
Juara III Goptki Kabupaten Ngawi dengan menu : kue sus tempe dan kue tupe (putu tempe) (*)
Subscribe to:
Posts (Atom)


