Showing posts with label Pertanian dan Peternakan. Show all posts
Showing posts with label Pertanian dan Peternakan. Show all posts

Monday, October 7, 2013

KRPL MAWAR : Mendukung Ketersediaan Pangan

Seiring dengan laju perkembangan penduduk dan laju pembangunan yang pesat, perubahan peruntukan lahan juga tak bisa dihindari. Peruntukan lahan pertanian menjadi lahan non pertanian seperti perumahan, dan pertokoan industri pun semakin banyak kita jumpai, sehingga lahan untuk pertanian semakin menyempit. Kenyatan ini menghadirkan dilema karena lahan pertanian semakin menyempit, di sisi yang lain kebutuhan akan pangan selalu meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk.

Untuk itu, Pemprov Jatim mengembangkan suatu model yang disebut Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) melalui pemanfaatan pekarangan sebagai suatu unit usaha pertanian secara terpadu. Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (Rumah Hijau Plus-Plus) merupakan gerakan dari dan untuk masyarakat pedesaan mulai tingkat dusun sampai dengan  tingkat rumah tangga, bekerja sama dengan ibu ibu PKK mulai tingkat Provinsi sampai dengan Dasa Wisma.

Sementara itu untuk Kabupaten Ngawi, pembentukan KRPL sudah dilaksanakan di 3 desa yaitu KRPL Desa Karangrejo, Ngrayudan dan Ngrendeng. Dari ketiganya, KRPL Mawar dari Ngrayudan terpilih untuk mengikuti lomba KRPL tingkat Provinsi. Kawasan Rumah Pangan Lestari MAWAR (makmur tur waras) dibentuk pada tanggal 13 Desember 2011 melalui fakta integritas dengan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan oleh  KRPL Mawar, namun fokus utamanya adalah membentuk dan menciptakan kawasan agribisnis yang makmur, sehat, dan lestari.

Kawasan Rumah Pangan Lestari (Rumah Hijau Plus-Plus) adalah kawasan pengembangan aneka komoditas tanaman, ternak (unggas), ikan/belut secara terpadu dipekarangan, fasilitas umum milik desa dan kanan kiri jalan desa. Hasil dari kegiatan ini bisa dimanfaatkan untuk konsumsi dan menambah pendapatan keluarga, sedangkan bagi instansi Pemerintah berfungsi sebagai motivator, fasilitator dan stabilisator terhadap KRPL.

Sunday, June 16, 2013

Ternak Madu Yang Menjanjikan

Nikmat Manisnya Madu
Di rumah tembok yang cukup luas di Desa Karangrejo Kecamatan Kendal Sukimin Petani lebah madu menerima Tim Majalah Trinil. "Niki omah madu pak (ini rumah madu pak)",Ungkap Sukimin mengawali pembicaraan. Maksudnya ternyata Sukimin bisa membangun rumah dari hasil berternak lebak madu yang sudah dilakukan sejak lama. "Beternak madu disini sudah dilakukan secara turun temurun sejak lama", terang Udi Djatmiko dari Badan Ketahanan Pangan yang mendampingi Majalah Trinil. Namun terorganisir dalam kelompokbaru kurang lebih lima tahun. Di Desa Karangrejo tergabung dalam Kelompok Tani Suka Makmur yang salah satunya usahanya adalah lebah madu, sedangkan di Karanggupito sudah bersiri kelompok khusus Lebah madu yang diberi nama "Madu Mulya".

Desa Karangrejo dan Karanggupito Kecamatan Kendal memang sudah sejak lama dikenal sebagai sentra penghasil Madu dan banyak diburu orang karena memang kualitasnya yang dinilai sangat baik, madunya konon sudah diekspor ke Singapura, anehnya orang - orang Ngawi justru banyak yang tidak mengenalnya.Dari hasil madu ini para perternaknya mendapatkan hasil yang bisa dibilang cukup lumayan. Seperti Sukimin yang tergabung dalam kelompok tani Suka Makmur tadi dalam satu musim panen dapat menghasilkan 50 - 100 botol madu yang berasal 300 rumah labah yang dimilikinya, bahkan pernah mencapai 200 botol. Jika perbotol dijualnya Rp. 250 ribu maka dalam satu musim panen dapat menghasilkan uang sebesar Rp. 12.500 ribu  sampai dengan Rp. 25 juta. Cukup besar memang, namun sebenarnya ini masih sangat minin karena masih sangat tergantung pada pada ketersediaan pakan lebah atau yang disebut nektar, yang diperoleh dari bunga. Permasalahan tanaman yang ada di sekitarnya saat ini adalah tanaman musiman tidak sepanjang tahun.

Hal yang sama diungkapkan Suparni peternak lebah di dari Desa Karanggupito, "Panennya hanya bisa satu tahun sekali", ungkap petani lebah yang dapat menghasilkan  rata - rata 100 botol madu sekali panen. Suparni anggota Kelompok Lebah Madu Madu Mulya berharap Pemerintah Daerah dapat membantu pengadaan tanaman - tanaman yang bisa berbunga sepanjang tahun. Ada bebapa tanaman yang cocok untuk memenuhi kebutuhan pakan lebah tersebut. Menurut Udi Djatmiko tanaman seperti Bunga Matahari, Sengon Laut dan kaliandra. Menyikapi hal tersebut Djarwanto dari Dinas Perkebunan dan perkebunan menyatakan siap membantu jika hal itu menjadi program Pemerintah Daerah.

Harapannya jika ketersediaan pakan lebah tercukupi masa panen madu menjadi lebih dari satu kali dalam setahun, sehingga kapasitas produksi pun akan semakin meningkat artinya penghasilan petani pun akan semakin meningkat. Sehingga pada saatnya nanti Ngawi akan semakin mendunia sebagai produsen Madu berkualitas.

Wednesday, April 24, 2013

Petani dan Nelayan Ngawi Ikut Pekan Daerah KTNA Jatim


Bupati Ngawi, Ir. Budi Sulistyono melepas peserta Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Ngawi di Pendopo Widya Graha Kabupaten Ngawi, Selasa 22 April 2013 kemarin.
Dalam sambutannya, Bupati Ngawi mengungkapkan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) merupakan wadah berkumpulnya para tokoh petani nelayan yang memiliki peran yang tidak sedikit. KTNA menanamkan cara pandang petani dalam rangka meningkatkan motivasi, dan kegairahan petani nelayan dan masyarakat pelaku agribisnis dalam pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan melalui kemitraan yang saling menguntungkan.
“Melalui Pekan Daerah KTNA  Jawa Timur tahun ini, saya berharap nantinya perwakilan yang diutus mampu memanfaatkan dan mengikutinya dengan baik. Para petani dan nelayan nantinya bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dibidang teknologi dan kualitas produksi agribisnis”, jelas Bupati.
Menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Ir. Slamet Purwono, MMA, Kabupaten Ngawi akan mengirimkan 83 peserta  dan 10 pendamping yang dikoordinir oleh KTNA Kabupaten Ngawi.
Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Ir. Slamet Purwono  juga mengatakan Pekan Daerah Jawa Timur Tahun ini akan diselenggarakan tanggal 22 – 26 April  di Kabupaten Jombang, dan di kegiatan ini para peserta KNTA saling berbagi ilmu dan pengetahuan  Penguasaan Teknologi Tepat Guna Kita Kembangkan Daya Saing Perekonomian Nasional .

Monday, April 8, 2013

Bupati Ngawi Panen Lele


“Dua hingga tiga tahun ke depan desa Sumber Bening akan menjadi sentra budidaya perikanan yang mampu bersaing dengan daerah lain”, Ujar Bupati penuh optimis. Daging gurame Sumber Bening memang dikenal memiliki teksturnya yang lebih halus dan gurih. Demikian diungkapkan Bupati Ngawi saat mencicipi Gurami hasil budidaya desa sumber bening. Desa ini bisa menjadi lokasi studi banding di bidang perikanan pada saatnya nanti”, lanjut Bupati.saat menghadiri  panen lele yang dibudidayakan oleh Kelompok Usaha Bersama di sumber air kucur Desa Sumber Bening Kecamatan Bringin Ngawi. Sebanyak 3000 ekor.

Bupati bertekad untuk mengembangkan sektor perekonomian lokal berbasis keunggulan desa di seluruh wilayah Kabupaten Ngawi seperti halnya Desa Sumber Bening dengan keunggulan local di bidang perikanan. Untuk itu Pememerintah Kabupaten Ngawi sukses menstimulasi petani pinggir hutan  untuk membudidayakan ikan lele dan gurame dengan memanfaatkan air kucur yang berasal dari sumber air.

Dijelaskan budidaya ikan lele dan gurame merupakan langkah awal mengentaskan kemiskinan masyarakat sekitar waduk Sangiran. Banyak sumber mata air yang membuat desa Sumber Bening sebagai lokasi pembudidayaan ikan lele dan gurame. Apalagi kadar garam sekitar 1.5 per ppm yang bermanfaat membantu menghilangkan jamur ditubuh ikan lele. Sehingga ikan terlihat bersih, sehat dan bebas penyakit.

Ir. H. Budi Sulistyono mengatakan kenapa memilih gurame  karena ikan tersebut bisa dibudidayakan dengan mudah dan tidak tergantung makanan pabrikan. Ikan gurame mampu bertahan hidup dengan mengkonsumsi daun papaya, mengkudu, dan bayam. Kalau lele dua bulan bisa dipanen, sedangkan gurame agak lama. Tapi pangsa pasar keduanya begitu luas di Ngawi sampai kewalahan untuk mencukupi. (*)